Terkesan doa tersebut adalah suatu pengharapan yang biasa kita panjatkan terhadap Illah kita, doa sebagai wujud manifestasi keinginan dan kebutuhan kita terhadap Tuhan. Tapi apakah kita tidak merasa bahwa terkadang doa dan keinginan yang kita komunikasikan kepada Tuhan kita terkesan memaksa dan mendikte-Nya? Tidak salah memang kita meminta segala sesuatu terhadap ALLAH, apapun itu, tapi bukankah Dia juga Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya?
Doa pertama memiliki kesan materi yang sangat kuat, banyak uang, mobil mewah, rumah yang besar memang menjadi dambaan bagi setiap orang, tapi apakah hal itu akan menjamin kebahagian yang kita dapatkan? Semua rezeki yang kita minta itu jika ALLAH menghendaki, maka Dia hanya akan mengatakan “kun”, jadilah, maka segala yang kita pinta itu akan langsung dapat kita nikmati. Tapi apakah Tuhan kita akan mengabulkan doa kita begitu saja tanpa memperhitungkan baik buruknya untuk kita, ketahuilah beruntunglah orang-orang shaleh yang menjadi kekasih-Nya, Allah pasti akan mewujudkan apapun juga, bukan hanya apa yang kita pinta, tapi lebih dari itu semua, yaitu ALLAH akan memberikan segala apa yang terbaik, baik untuk kehidupan dunia ataupun akhirat kelak. Bukankah sang Al Hakim berfirman yang artinya
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)
Tuhan kita mengindikasikan bahwa Dia-lah yang lebih mengetahui urusan yang terbaik bagi diri kita. Kita harus selalu berhusnudzan kepada-Nya, mungkin ketika Dia tidak mengabulkan semua doa kita, barangkali saja ketika kita diberikan rumah besar, harta yang banyak, mobil mewah, maka kita akan menjadi orang yang sombong dan jauh dari kasih sayang Tuhan kita? Karena ALLAH lah yang jauh lebih mengetahui, pikiran, karakteristik dan diri kita, dan Tuhan kita akan selalu memberikan hambanya-Nya sesuai dengan proporsi kemampuan dan keimanan seorang hamba.
Lagipula jika kita berdoa seperti doa orang pertama tersbut, kita malah membatasi rezeki yang kita minta kepada Tuhan kita, hanya terbatas kepada rumah, mobil dan uang saja. padahal rezeki yang diberikan oleh Sang Maha Kaya jauh lebih banyak dan lebih luas dari itu semua. Mungkin akan lebih bijak jika kita meminta rezeki kepada Tuhan kita dengan lantunan doa yang cantik dan menawan sesudah shalat dhuha, yang artinya “Ya ALLAH, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu, kecantikan adalah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu perlindungan- Mu. Ya ALLAH, jika rizkiku masih diatas langit maka turunkanlah, dan jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, kekuatan, keindahan,dan kekuasaan-Mu limpahkanlah kepada kami segala apa yang kau limpahkan kepada orang-orang shaleh.”
Doa meminta rezeki ini tidak terbatas dan mendikte Tuhan kita apa yang kita inginkan, tapi doa ini mengisyaratkan kepada Tuhan kita, agar rizki yang telah ditetapkan oleh ALLAH agar keluar dari berbagai macam pintu.
Doa dari orang kedua, mungkin tidak asing terdengar, karena doa tersebut pernah ada dalam film “Kiamat sudah dekat” ketika Fadli (yang diperankan oleh andrey stinky) berdoa dan (lebih tepatnya berteriak-teriak di darmaga laut) meminta kepada ALLAH agar akhwat yang ia suka (saya lupa namanya) menjadi istrinya, dengan mengangkat asumsi-asumsi bahwa ALLAH adalah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, bahkan juga untuk menjadikan akhwat tersebut menjadi istrinya. Memang benar ALLAH memang dengan bisa dengan mudah melakukan itu semua, tapi bukankah Dia telah menentapkan jodoh kita sebelum manusia lahir ke muka bumi. (Untung saja itu film, jadi berakhir dengan bahagia, sesuai dengan apa yang diinginkan sutradara). Bukankah kita menjadi orang yang linglung ketika kita mendikte Tuhan kita dengan meminta seseorang untuk menjadi pasangan hidup kita kelak.
Padahal Dia berfirman yang artinya “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”
So apa yang kita takutkan, kita hanya perlu menjadi orang yang keji (naudzubillah) atau yang baik sesuai dengan ayat tersebut maka kita pun akan mendapatkan pasangan yang sama dengan pribadi dan keimanan yang kita miliki, yang telah ditetapkan ALLAH sebelumnya.
Terlebih ketika pemahaman kita belum baik maka, kita akan selalu mendikte Tuhan kita terhadap permasalahan ini. Apalagi anak-anak remaja yang darah mudanya bergelora. Saya selalu tersenyum ketika ada anak2 SMA yang menanyakan permasalahan ini. Apalagi mereka melegitimasi aktivitas yang sebagian mereka lakukan (pacaran) dengan ayat alQuran yakni yang artinya “ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri” jadi mereka menganggap bahwa pacaran adalah bagian dari usaha mereka untuk mengubah nasib dengan mencari pasangan hidupnya kelak. Saya tersenyum mendengar hal ini, dan memberikan sedikit penjelasan “akhi pacaran itu ayatnya bukan mengubah nasib dan usaha yang dilakukan kita sebagai manusia dalam rangka mencari pasangan, tetapi pacaran itu lebih dekat dengan ayat al isra 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.”
Mungkin hal itu juga pernah terbersit pada waktu kita SMA dulu. Pacaran seperti itu juga bukan hanya merangsang Tuhan kita untuk memberikan murkanya, tetapi juga dengan berani mendikte Tuhan kita agar ia menjadikan pacar tersebut sebagai pasangan kita (nb, jika pacarannya dengan niat untuk menikah, tidak berlaku jika hanya bersenang-senang, tetapi dua2nya tetap salah).
Mendikte Tuhan, mungkin kita pernah juga dengan tidak sadar atau lupa melakukannya, dan hal itu tidak ahsan, terlebih Dia adalah Tuhan yang menciptakan dan mengurus kita selama ini. Terbukalah terhadap semua hal apakah itu rizki atau yang lainnya. Kata teman saya mah “jangan terbatas oleh tembok salah satu sekolah saja.” Janji ALLAH adalah bahwa orang yang beriman akan selalu mendapatkan balasan yang baik. Jadi santai saja lah, ketika kita menginginkan sesuatu maka kita harus menyerahkannya kepada ALLAH untuk memberikan suatu putusan yang terbaik untuk kita. OK selamat berjuang dan semoga ALLAH selalu memberikan yang tbaik kepada ikhwah fillah sekalian.wallahu’alam bisshaab
Doakan skripsi saya ya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar