Minggu, 16 Januari 2011

Teruntukmu Ibu...

Belum ada yang bisa kuberikan
padamu, Bu...
Tidak emas
Bukan berlian
Bahkan permata
Apalagi tahta!
Yang ada hanya bohongku
Yang ada hanya bantahanku
Yang ada hanya gerutuanku
Jangankan senyum yang
tersungging di wajahmu
Tapi yang ada malah air mata
karna kelakuanku!
Sungguh Bu, lihatlah anakmu
Makin hari makin besar makin
dewasa
Gurat tua di wajahmu pun
nampak semakin nyata
Tapi,
Apakah makin besar baktiku
padamu, Bu?
Katakan yang keras hingga
Allah pun mendengar!
Sungguh, jawabannya tidak,
Bu!
Yang ada aku semakin jauh
darimu
Makin kasar terhadapmu
Tak lagi mendengarmu
Berasa diri ini sudah mampu
menapak sendiri tanpa dirimu,
Bu!
Diri ini sombong, diri ini
angkuh!
Padahal,
Siapa aku, Bu...
Siapa aku...
Aku tidak akan ada disini
tanpa dirimu
Aku yang keluar dari rahimmu
beberapa tahun lampau
Bersimbah darah, bertatap
dengan maut
Tapi apa, Bu...
Senyum...
Sebuah senyuman dan tangis
haru yang malah ada pada
dirimu,
Bukan caci maki dan sumpah
serapah bahwa aku telah
memberatkanmu...
Sekarang,
Ketika aku melawanmu,
Kau tak pernah lontarkan
sumpah serapah mengutukku,
Yang ada kau malah
mendoakanku
Mendoakan anak yang tak
pernah tahu rasa terima kasih..
Duh, Ibu...
Sungguh, apakah kau tahu?
Tak salah Allah kirimkan
malaikat padaku
dengan sebuah status mulia
yaitu IBU...
Aku bersyukur, Bu
Sungguh bersyukur
Taqdirku bertemu denganmu
Taqdirku merasakan cintamu
Taqdirku memilikimu
Ibu,
Andai kau tahu
Sungguh selama ini banyak hal
yang ingin kuceritakan
padamu
Banyak sekali kata maaf yang
terkunci rapat di ujung bibirku
Tak terhingga kata cinta yang
ingin kuutarakan padamu, Bu...
Tapi anak remajamu ini masih
merasa malu
Walaupun diri ini sendiri
bingung,
Untuk apa aku malu,
Pada ibuku?
Ah, Ibu, aku tak bisa berkata
lagi,
Aku bukan seorang pujangga
hebat yang bisa merangkai
kata indah wujud tanda cinta...
Aku hanya bisa bilang,
Ibu maafkan aku...
IBU AKU MENCINTAIMU...
Bahkan lebih dari yang kau
tahu,
Karna aku tak pernah
memberitahumu....

Tidak ada komentar: